Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) dan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada Rabu, 4 November 2026, menerbitkan laporan bersama bertajuk "Laporan Situasi Pendidikan Afghanistan 2026".
Dalam laporan tersebut, kedua lembaga menyatakan bahwa lebih dari separuh anak usia sekolah dasar di Afghanistan tidak dapat mengakses pendidikan dalam sistem pendidikan umum formal.
Berdasarkan laporan itu, lebih dari 2,6 juta remaja perempuan telah kehilangan hak untuk mengakses pendidikan menengah sejak 2021.
Pendidikan berbasis komunitas, program pemberantasan buta huruf dan pelatihan keterampilan, pembelajaran jarak jauh, serta kelas-kelas privat menjadi beberapa dari sedikit jalur yang masih tersedia bagi anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan.
Namun, program-program tersebut tidak dapat menggantikan pembelajaran tatap muka maupun hak untuk memperoleh pendidikan formal.
Laporan itu juga menunjukkan bahwa jumlah anak usia sekolah meningkat dari sekitar 10,4 juta pada 2019 menjadi 11,5 juta pada 2024. Pertumbuhan tersebut memberikan tekanan yang semakin besar terhadap sekolah, tenaga pengajar, dan layanan pendidikan.
Meskipun menghadapi berbagai persoalan tersebut, sekitar 6,6 juta anak tercatat bersekolah di sekolah dasar negeri pada 2025. Jumlah ini meningkat sekitar 560 ribu anak dibandingkan 2022.
Namun, pertumbuhan angka pendaftaran siswa tidak lagi sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk.
Pada bagian lain laporan tersebut, UNICEF dan UNESCO memperingatkan rendahnya kualitas pendidikan di Afghanistan.
Hasil evaluasi nasional terhadap lebih dari 55 ribu siswa di 34 provinsi Afghanistan menunjukkan bahwa kurang dari separuh siswa kelas empat telah mencapai kemampuan minimum yang diharapkan dalam mata pelajaran bahasa untuk tingkat kelas tiga.
Sementara itu, dalam mata pelajaran matematika, hanya seperempat siswa yang mencapai standar kemampuan tersebut.
Kondisi pendidikan prasekolah juga dinilai mengkhawatirkan. Kurang dari satu persen anak berusia tiga hingga empat tahun mengikuti program pendidikan prasekolah.
Berdasarkan laporan tersebut, hingga September 2026, sekitar 1,23 juta warga Afghanistan telah kembali ke negara mereka. Dari jumlah tersebut, lebih dari 245 ribu anak yang kembali membutuhkan dukungan pendidikan.
Selain itu, akibat berlanjutnya larangan bagi perempuan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi, jumlah mahasiswa di Afghanistan menurun dari sekitar 430 ribu orang pada 2020 menjadi 189 ribu orang pada 2024.
Jumlah tersebut kemudian mengalami sedikit peningkatan menjadi sekitar 208 ribu mahasiswa pada 2026.
Pada akhir laporannya, UNICEF dan UNESCO menyerukan pemulihan sepenuhnya hak pendidikan bagi anak perempuan dan kaum perempuan Afghanistan, serta penghapusan berbagai hambatan yang menghalangi akses terhadap pendidikan berkualitas.
Kedua lembaga tersebut juga memperingatkan bahwa pengabaian terhadap krisis pendidikan ini dapat berdampak serius terhadap masa depan satu generasi di Afghanistan.
Komentar Anda